Virus Negeri di Bulan Ramadhan
Virus Virus Sality, Virus brontok, …..Virus……Virus apa sebenarnya yang melanda negeri ini? Dunia semakin panas, apa virus panas ini penyebabnya? Dimana yang tidak panas? Di jalanan, di lapangan, dikantor, di gedung, di dapur, bahkan bias jadi di tempat-tempat ibadah, banyak kita menyaksikan orang yang marah-marah. Bukan hanya dengan tingkah laku mereka namun kata-kata yang terucap pun seolah-olah dipilih yang kasar, kalaupun tak kasar dipilihlah kata kata yang menusuk hati dan tidak enak untuk didengarkan. Pikiran bersih kita terhenti, dan hanya berpikir seolah-olah di negeri ini tidak lagi ada ruang untuk kesantunan di dalam pergaulan.
Bukan hanya terpabas pada dunia nyata, kehidupan saehai hari kita. Didalam dunia mayapun demikian, baik yang dengan mediaelektronik mupun media broadcasting apapaun, Pers pun –apalagi teve–tampaknya sangat suka dengan berita dan tayangan-tayangan kemarahan, dan dimunculkan kerap sekali di awal awal pemberitannya.
Apakah hal ini hanya pada kalangan tertentu, tentunya bisas kita lihat dan rasakan bagaimana “bahasa kemarahan” ini juga sudah seperti tren pula di kalangan intelektual dan agamawan. Khotbah-khotbah keagamaan, ceramah-ceramah dan makalah-makalah ilmiah dirasa kurang afdol bila tidak disertai dengan dan disarati oleh nada geram dan murka. Seolah-olah tanpa gelegak kemarahan dan tusuk sana tusuk sini bukanlah khotbah dan makalah sejati.
Ada sedikit cerita, suatu saat ada orang yang mempunyai kesulitan untuk menemukan jalan menuju suatu tempat. Kemudian minta tolong pada orang lain untuk menunjukkan jalan tersebut. Katakanlah X dan y, dan simaklan pembicaraan mereka :
X : mas jalan kesana lewat mana ya (rupanya si ibu ini sudah mondar mandir melewati jalan yang salah)
Y : coba ibu lewat sebelah sana….( dengan sedikit berpikir berusaha mencarikan jalan keluar dan menunjukkan arah).
X : Lho mas gimana, disana itu ndak bias, gimana to (bla blab la bla….dengan kata kata kemarahannya memarahi orang yang berusaha menjelaskan dan menunjukkan jalannya, dan ini spontan).
Rupanya ibu tadi belum memahami petunjuk dari si x tetapi sudah memotong pembicaraan dan memarahinya.
Barangkali kejadian ini sepele namun bila kita lihat kadang kita yang meminta tolong kepada orang lain, ketika ditolong karena adanya keterbatasan orang itu eeeh malah kita yang marah marah. Orang lain itu tulus menolong kita, kenapa kita marahi ya…
Mari kita cermati slogan bangsa kita “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, berbudi pekerti luhur “ apakah slogan itu masih ada…
Kalo dilihat dari sisi agama mengacu pada akhlak Nabi Muhammad SAW yang memiliki keluhuran budi yang luar biasa, pekerti yang agung (Q. 68:4). Beliau lemah lembut, tidak kasar dan kaku (Q. 3: 159), maka jauh jauh jauh lah kita… barangkali tulisan ini untuk memperbaiki diri, apalagi momen yang pas saat ramadhan kali ini. Berlaku santun, berbicara menyenangkan, dalam pepatah jawa ada unen unen “OJO WATON NGOMONG, NANGING NGOMONG SING WATON”, coba kita gali bersama unen unen tersebut. Maknai diri kita untuk berbuat sebaik baiknya, agar kelak ada yang kita bawa, walupun sedikit kebaikan.. semoga bermanfaat…



jangan sampe terkena deh….